Minggu, 29 Juni 2014

Kohesi dan Koherensi Paragraf



MAKALH
KOHESI DAN KOHERENSI PARAGRAF


Bab I
Pendahuluan
  1. Latar Belakang
Keterampilan bahasa pada manusia memimiliki empat komponen yang saling dan berkaitan satu sama lain. Keempat komponen ini adalah keterampilan Menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca serta keterampilan menulis (Nida, 1957:19; Haris,1977:9; Tarigan,1981:1). Komponen-komponen tersebut sangat mempengaruhi keterampilan berbahasa pada diri seseorang sehingga perlu baginya untuk mempelajari setiap komponen agar memiliki kemampuan berbahasa yang baik.
Salah satu komponen yang terpenting dalam pembelajaran bahasa ini adalah keterampilan menulis. Keterampilan ini pada tata urutan komponen pembelajaran menempati urutan terakhir atau yang teratas karena memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dari komponen pembelajaran bahasa yang lain.
Setiap individu mengalami pembelajaran bahasa pertama kali melalui pembelajaran keterampilan menyimak. Keterampilan menyimak yang baik ini kemudian berkembang secara lebih lanjut menjadi keterampilan berbicara yang pada tahap selanjutnya individu akan belajar tentang bahasa  melalui keterampilan membaca. Pada tingkatan terakhir dari keterampilan bahasa yang dipelajari oleh seseorang indvidu adalah  keterampilan menulis. Pada dasarnya dapat kita simpulkan bahwa keempat komponen keterampilan bahasa tersebut merupaka sebuah kesatuan yang dengannya kita dsebut dengan catur-tunggal.
 Mengenai komponen keterampilan bahasa yang terakhir, yaitu keterampilan menulis. Terhadap hubungan yang sangat berkaitan dengan komponen keterampilan membaca. seseorang yang memiliki kesenangan terhadap kegiatan membaca maka akan memiliki kecenderungan untuk menuliskan apa yang mereka pelajari. sedangkan mereka yang memiliki hobi atau kegemaran menyimak maka akan lebih memiliki kecenderungan untuk berbicara.
Keterampilan menulis merupakan sebuah keterampilan yang terjadi karena sebuah proses panjang yang mendasarinya. seseorang yang menginginkan untuk menjadi seorang penulis yang baik maka dia harus memiliki kesukaan atau kecenderungan untuk membaca banyak buku sebagai bahan referensi. Karena dengan adanya banyak buku yang mereka pelajari tersebut setiap harinya maka akan membuat kosakata yang dimiliki oleh seseorang tersebut akan bertambah anyak sehingga mampu menghasilkan jenis tulisan yang lebih variatif.
Kematangan penulis dalam menghasilkan sebuah tulisan yang baik tersebut selain memperhatikan kekayaan kosakata yang dimilikinya dan pesan yang terkandung di dalam tulisannya juga terdapat poin penting yang tidak boleh terlewatkan yaitu mengenai kohesi dan koherensi kalimat-kalimat yang terdapat di dalam sebuah paragraph serta paragraph-paragraf dalam sebuah kesatuan wacana yang utuh. Sehingga degannya memerlukan pengkajian lebih lanjut mengenai kohesi dan koherensi terhadap sebuah wacana.
  1. Rumusan Masalah
Berdasarkan beberapa uraian latar belakang masalah yang telah disebutkan di atas, maka dapat disimpulkan rumusan masalah sebagai berikut :
  1. Apakah definisi dari kohesi dan koherensi?
  2. Bagaimanakah jenis-jenis kohesi dan koherensi ?
  3. Apakah definisi dari paragraf?
  4. Bagaimanakah ciri-ciri dan klasifikasi paragraf?
  5. Bagaimanakah  pengaruh antara kohesi dan koherensi dalam pengembangan sebuah wacana secara utuh?

  1. Tujuan Pembahasan
Tujuan dari penulisan makalah ini sendiri ialah sebagai berikut
  1. Mengetahui definisi dari kohesi dan koherensi;
  2. Mengetahui jenis-jenis kohesi dan koherensi;
  3. Mengetahui definisi paragraf;
  4. Mengetahui ciri-ciri dan klasifiksi paragraf, dan
  5. Mengetahui hubungan antara kohesi dan koherensi dalam pengembangan sebuah paragraf dalam sebuah wacana secara utuh.
  1. Manfaat
Berdasarkan tujuan diatas dapat diambil manfaat sebagai berikut
  1. Setelah membaca makalah ini maka penulis mengharapkan kepada para pembaca agar lebih memahami tentang pentingnya kohesi dan koherensi dalam sebuah tatanan wacana.

Bab II
Pembahasan
1.      Definisi kohesi dan koherensi
A.    Pengertian kohesi menurut beberapa tokoh:
a.       Tarigan (1987 : 96 )
Kohesi atau kepaduan wacana menurut aspek formal bahasa dalam wacana.
b.      Menurut Gutwinsky dalam Tarigan (1987 : 97 )
Kohesi atau kepaduan wacana ialah hubungan antar kalimat di dalam sebuah wacana, baik dalam strata gramatikal maupun dalam strata leksikal tertentu.
c.       Menurut Halliday dan Hasan dalam Tarigan (1987 : 97 )
Dalam kohesi menggunakan penanda yang dipakai untuk menandai kohesif.

Kohesi secara umum dapat kita artikan sebagai keserasian hubungan antar unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana. Kohesi mengacu pada aspek bentuk atau aspek formal bahasa, dan wacana itu terdiri dari kalimat-kalimat.
B.     Pengertian koherensi
Koherensi adalah pengaturan secara rap kenyataan dan gagasan, fakta dan ide menjadi suatu untaian yang logis sehingga mudah memahami pesan yang dikandungnya menurut ( Wohl, 1978 : 25).

2.      Jenis-jenis kohesi dan koherensi
a.       Kohesi Gramatikal
Kohesi gramatikal adalah kepaduan bentuk bagian-bagian wacana yang      diwujudkan ke dalam sistem gramatikal.
Secara lebih rinci, aspek gramatikal wacana meliputi:
1.      Pengacuan ( Refrensi )
Pengacuan atau referensi adalah salah satu jenis kohesi gramatik yang merupakan satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain yang mendahului atau mengikutinya. Berdasarkan tempatnya, apakah acuan itu berada di dalam teks atau di luar teks, maka pengacuan dibedakan menjadi dua jenis yakni (1)  pengacuan endofora, apabila acuannya berada atau terdapat dalam teks wacana itu, (2) pengacuan eksofora, apabila acuannya berada atau terdapa di luar teks.
2.      Subtitusi.
Subtitusi adalah hasil penggantian unsure bahasa oleh unsure lain dalam satuan yang lebih besar untuk memperoleh  unsure-unsur pembeda atau untuk menjelaskan suatu struktur tertentu. Subtitusi merupakan hubungan  gramatikal, lebih bersifat hubungan kata dan makna. Subtitusi dalam bahasa Indonesia dapat bersifat nominal, verbal, klausal, atau campuran.
3.      Elipsis
Elipsis adalah peniaadaan kata atau satuan lain yang ujud asalanya dapat diramalkan dari konteks bahasa atau luar bahasa. Ellipsis dapat pula dikatakan penggantian nol ; sesuatu yang ada tetapi tidak diucapakan atau tidak dituliskan.
4.      Konjungsi
Konjungsi adalah yang dipergunakan untuk menggabungkan kata dengan kata, frasa dengan frasa, kalusa dengan klausa, kalimat denagn kalimat, atau peragraf dengan paragraph.
Konjungsi dalam bahasa Indonesia dapat dikelompokkan atas :
- konjungsi adversative : tetapi, namun
- konjungsi kausal : sebab, karena
- konjungsi korelatif : entah/entah, baik/maupun
- konjunsi subordinatif : meskipun, kalau, bahwa
- konjungsi temporal : sebelum, sesudah

b.      Kohesi Leksikal
Kohesi leksikal adalah hubungan antar  unsur dalam wacana secara                        semantik. Hubungan  kohesif yang diciptakan atas dasar aspek leksikal, dengan pilihan kata yang serasi, menyatakan hubungan makna atau relasi semantik antara satuan lingual yang satu dengan satuan lingual yang lain dalam wacana.
 Aspek leksikal dalam wacana dibedakan menjadi enam yakni :
1.      Repetisi
Repetisi adalah pengulangan satuan lingual yang dianggap 
penting untuk memberi tekanan dalam sebuah konteks yang  sesuai.
2.      Sinonim
Sinonim dapat diartikan sebagai nama lain untuk benda atau hal yang sama atau ungkapan yang makna nya kurang lebih sama dengan ungkapan lain. Sinonim merupakan salah satu aspek leksikal untuk mendukung kepaduan wacana.
3.      Antonim
Antonim dapat diartikan sebagai nama lain untuk benda atau hal yang lain, satuan lingual yang maknanya berlawan/berposisi dengan satuan lingual yang lain.
4.      Kolokasi
Kolokasi atau sanding kata adalah asosiasi dalam menggunakan pilihan  kata yang cenderung digunakan secara berdampingan.
5.      Hiponim
Hiponim dapat diartikan sebagai satuan bahasa yang maknanya dianggap merupakan bagian dari makna satuan lingual yang lain.
6.      Ekuivalen ( kesepadanan)
Ekuivalen adalah hubungan  kesepadanan antara satuan lingual tertentu dengan satuan lingual yang lain dalam sebuah paradigma. Dalam hal ini, sejumlah kata hasil proses afiksasi dari morfem asal yang sama menunjuk adanya hubungan kesepadanan.
3.      Definisi paragraf
Paragraf adalah suatu bagian dari bab pada sebuah karangan atau karya ilmiah yang mana cara penulisannya harus dimulai dengan baris baru. Paragraf dikenal juga dengan nama lain alinea. Paragraf dibuat dengan membuat kata pertama pada baris pertama masuk ke dalam (geser ke sebelah kanan) beberapa ketukan atau spasi. 
4.      Ciri-ciri dan klasifikasi paragraf
Menurut Tarigan dalam buku Mudlofar (2002: 95) menyatakan beberapa ciri paragraf, yaitu:
a.          Berdasarkan sifat dan tujuannya paragraf dibedakan menjadi tiga, yaitu:
1)      Paragraf pembuka
Paragraf pembuka merupakan paragraf yang berperan sebagai pengatur untuk sampai kepada masalah yang akan diuraikan
2)      Paragraf penghubung
Paragraf penghubung ialah semua paragraf yang terdapat antara paragraf pembuka dan penutup yang berisi uraian masalah yang dibahas.
3)      Paragraf penutup
Paragraf penutup ialah paragraf yang dimaksudkan untuk mengakhiri karangan atau bagian karangan.
b.          Berdasarkan kalimat utamanya, paragraf terbagi menjadi:
1)      Paragraf deduksi
Paragraf deduksi ialah paragraf yang kalimat utamanya terletak diawal.
2)      Paragraf Induksi 
Paragraf induksi adalah paragraf yang kalimat utamanya terletak di akhir paragraf.
3)      Paragraf kombinasi (campuran)
Paragraf kombinasi ialah paragraf yang kalimat utamanya terletak di awal dan diakhir paragraf.
c.          Berdasarkan isi, paragraf terbagi menjadi:
1)      Paragraf narasi
Secara sederhana, narasi dikenal sebagai cerita. Pada narasi terdapat peristiwa atau kejadian dalam satu urutan waktu. Di dalam kejadian itu ada pula tokoh yang menghadapi suatu konflik. Ketiga unsur berupa kejadian, tokoh, dan konflik merupakan unsur pokok sebuah narasi. Jika ketiga unsur itu bersatu, ketiga unsur itu disebut plot atau alur. Jadi, narasi adalah cerita yang dipaparkan berdasarkan plot atau alur. Narasi dapat berisi fakta atau fiksi. Contoh narasi yang berisi fakta: biografi, autobiografi, atau kisah pengalaman. Contoh narasi yang berupa fiksi: novel, cerpen, cerbung, ataupun cergam.
2)      Paragraf deskripsi
Paragraf deskripsi ialah karangan yang berisi gambaran mengenai suatu hal atau keadaan sehingga pembaca seolah-olah melihat, mendengar, atau merasakan hal tersebut.
3)      Paragraf eksposisi
Karangan ini berisi uraian atau penjelasan tentang suatu topik dengan tujuan memberi informasi atau pengetahuan tambahan bagi pembaca. Untuk memperjelas uraian, dapat dilengkapi dengan grafik, gambar atau statistik.
4)      Paragraf argumentasi
Karangan ini bertujuan membuktikan kebenaran suatu pendapat/ kesimpulan dengan data/ fakta sebagai alasan/ bukti. Dalam argumentasi pengarang mengharapkan pembenaran pendapatnya dari pembaca. Adanya unsur opini dan data, juga fakta atau alasan sebagai penyokong opini tersebut.
5)      Paragraf persuasi
Karangan ini bertujuan mempengaruhi pembaca untuk berbuat sesuatu. Dalam persuasi pengarang mengharapkan adanya sikap motorik berupa motorik berupa perbuatan yang dilakukan oleh pembaca sesuai dengan yang dianjurkan penulis dalam karangannya.
5.      Pengembangan Paragraf
a)      Pengembangan alamiah
Pengembangan secara alamiah ini seorang penulis dapat menggunakan pola yang sudah ada pada obyek atau kajian yang dibicarakan. Penulis dapat menggunakan dua pola. Pertama, pola spesial atau urutan ruang, misalnya gambaran dari depan ke belakang, dari luar kedalam dan sebagainya. Kedua, pola kronologis atau urutan waktu, misalnya gambaran urutan terjadinya peristiwa, perbuatan atau tindakan, tadi sekarang, nanti, besok, dan sebagainya.
b)      Pengembangan klimaks dan antiklimaks
Pembuatan klimaks dilakukan dengan penampilan gagasan utama yang rinci dari persoalan yang paling rendah kedudukannya. Sementara itu pengembangan antiklimaks merupakan kebalikan dari klimaks.
c)      Pengembangan Perbandingan dan Pertentangan
Paragraf perbandingan dan pertenntangan ialah cara pengarang menunjukkan kesamaan atau perbedaan antara dua orang , subjek atau gagasan dengan bertolak dari segi-segi tertentu (Keraf dalam buku Mudlofar 2002: 99).
d)     Pengembangan analogi
Pengembangan analogi biasanya digunakan untuk membandingkan sesuatu yang sudah terkenal umum dengan yang tidak dikenal umum.
e)      Pengembangan contoh-contoh
Gagasan yang terlalu umum sifatnya sulit dipahami. Agar pembaca menjadi jelas diperlukan ilustrasi-ilustrasi konkret. Ilustrasi konkret inilah yang nantinya dikembangkan menjadi contoh-contoh.
f)       Pengembangan akibat sebab -sebab akibat
Hubungan kalimat dalam sebuah paragraf dapat berupa hubungan sebab akibat dan akibat sebab. Sebab dapat bertindak sebagai kalimat utama, sedangkan akibat merupakan kalimat penjelas. Dapat pula sebaliknya , akibat sebagai pikiran utama dan sebab sebagai pikiran penjelas.
g)      Pengembangan definisi luas
Yang dimaksud pengembangan definisi luas ialah pengarang bermaksud memberikan keterangan atau arti terhadap sebuah istilah atau hal (Keraf dalam buku Mudlofar 2002: 102).
h)      Pengembangan klasifikasi
pengembangan karangan kadang-kadang memerlukan pengelompokan hal-hal yang mempunyai persamaan. Pengelompokan ini bekerja kedua arah yang berlawanan, yaitu pertama mempersatukan satuan-satuan kedalam satu kelompok., dan kedua, memisahkan satuan-satuan tadi dari kelompok yang lain (keraf dalam buku Mudlofar 2002: 103).
i)        Pengembangan umum khusus-khusus umum
Cara pengembangan paragraf umum khusus-khusus umum merupakan cara yang paling umum dipakai. Paragraf umum khusus dikembangkan dengan meletakkan pikiran utama pada awal paragraf kemudian rician-rincian berada pada kalimat-kalimat berikutnya. Sebaliknya paragraf khusus umum, mula-mula dikembangkan rincian-rincian kemudian pada akhir paragraf disampaikan generalisasinya. Jadi paragraf umum khusus bersifat deduktif, sedangkan paragraf induktif bersifat khusus umum.
6.      Hubungan kohesi dan koherensi dalam pengembangan paragraf hingga membentuk sebuah wacana utuh.
Pengembangan paragraf untuk membentuk sebuah wacana utuh yang baik maka sangat diperlukan untuk memperhatikan adanya kohesi dan koherensi antar kalimat yang ada di dalam paragraf dan juga paragraf-paragraf di dalam sebuah bacaan secara keseluruhan.




Bab III
Penutup
A.    Simpulan
1.      Kohesi merupakan kepaduan antara kalimat-kalimat yang ada di dalam sebuah paragraf yang memperhatikan aspek-aspek kebahasaan. Sedangkan Koherensi merupakan kesatuan antara kalimat-kalimat dalam membentuk sebuah wacana yang utuh sehingga memudahkan penyampaian pesan wacana kepada para pembaca.
2.      Kohesi terbagi menjadi dua yaitu secara gramatikal dan secara leksikal.
3.      Paragraf ialah sebuah kesatuan utuh (alinea) yang di dalamnya terdapat kalimat utama yang ditunjang dengan adanya kalimat-kalimat penjelas yang mendukung keberadaan kalimat utamanya.
4.      Jenis-jenis paragraf terbagi menjadi tiga yaitu berdasarkan sifat dan tujuannya, berdasarkan kalimat utamanya serta berdasarkan isinya.
5.      Kohesi dan koherensi harus diperhatikan dalam mengembangkan sebuah paragraf agar dapat menghasilkan sebuah wacana secara utuh. Hal ini dikarenakan dengan adanya kepaduan dan kesatuan antara kalimat-kalimat yang terdapat di dalam paragraf maka akan membuat sebuah  wacana menjadi baik dan menarik.

B.     Saran
Merangkai kalimat perlu memperhatikan kohesi dan koherensinya agar dapat menjadikannya sebagai sebuah paragraf yang baik. Yang dengannya kesatuan antar paragraf akan membuat keutuhan dari sebuah wacana sehingga akan memudahkan bagi penulis untuk menyampaikan pesan kepada para pembaca. Sebagai pembaca undah untuk mengetahui isi dari buku tersebut.



Daftar Pustaka

Kridalaksana, Harimurti. 2008. Kamus Linguistik. Jakarta: PT Gramedia.
Kushartanti, Untung Yuwono, dan Multamia RMT Lauder. 2009. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik. Jakarta: PT Gramedia.
Van Dijk, T.A. 1977. Text and context. Explorations in the Semantics and Pragmatics of Discourse. London: Longman. 


Menulis Surat



MAKALAH
MENULIS SURAT



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Menulis adalah suatu proses yang mencangkub tiga langkah – langkah yaitu langkah pertama prapenulisan, langkah kedua penulisan, langkah ketiga evaluasi.
          Kemampuan menulis bukanlah semata- mata milik golongan berbakat menulis dengan latihan yang sungguh – sungguh, kemampuan itu dapat dimiliki siapa saja tak terkecuali kita.
                      Akan tetapi kita harus tau bahwa kemampuan itu juga bukan suatu kemampuan yang sederhana melainkan menuntut sejumlah kemampuan.Betapapun sederhananya tulisan kita tetap dituntut memenuhi persyaratan seperti yang dituntut untuk kalau kita menulis tulisan yang rumit.Kita dapat melakukan semua itu sebagai satu kegiatan tunggal jika kita menulis sebuah karangan yang sederhana, pendek, dan bahannya sudah siap dikepala kita. Akan tetapi sebenarnya kegiatan menulis itu adalah suatu proses penulisan yang meliputi beberapa langkah- langkah  yaitu langkah prapenulisan ,langkah penulisan, langkah evaluasi.
                      Ketika langkah penulisan itu menunjukkan kegiatan utama yang berbeda. Dalam tahap prapenulisan kita menentukan hal- hal pokok yang akan mengarahkan kita dalam seluruh kegiatan kita itu. Dalam tahap penulisan kita melakukan apa yang telah kita tentukan dalam mengembangkan gagan kita dalam kalimat – kalimat. Satuan paragraf,bab atau bagian, sehingga selesailah buram (draff ) kita pertama dalam tahap revisi anda membaca dan menilai kembali apa yang sudah kita tulis,memperbaiki, mengubah, bahkan jika perlu memperluas tulisan kita.
            Akan tetapi dalam prateknya ketiga tahap penulisan itu tidak dapat dipisahkan secara jelas,merupakan bertumpang tindih. Pada saat kita membuat perencanaan ,mungkin anda sudah menulis menulis sedangkan waktu kita menulis mungkin kita juga sambil melakukan evaluasi. Tumbang tindih itu terutama terjadi jika kita menulis karangan pendek berdasarkan sesuatu yang telah kita ketahui. Missal jika kita harus mengarang formal di kelas dalam penulisan karangaan panjang seperti makalah penelitian ,laporan akhir semerter dan lain- lain. Tahan- tahapan itu secara lebih jelas. Mac Criman (1957 : 4 ) menggambarkan ketumbang tindihan itu sebagai berikut :
Prapenulisan -------à penulisan -------à revesi
Topik, pembatasan, tujuan.
                        Pemilihan dan piñata bahan
                                    Penyusunan paragraf dan kalimat
                                                Diksi dan teknik penulisan
                                                            Perbaikan buram pertama dan pembacaan ulang.

B.     Rumusan Masalah
Dalam kegiatan menulis, seringkali kita mengalami kesulitan dalam menulis tersebut, agar lebih memudahkan kita dalam menulis, maka kita harus mengikuti tahap-tahap dalam membuat tulisan.
            1. Bagaimana langkah- langkah menulis yang baik ?
            2. Bagaimana proses membuat tulisan yang baik ?    

C.    Tujuan
Sesuai dalam rumusan masalah dapat di tarik kesimpulan sebagai berikut :
            1.Agar kita mengetahui bagaimana langkah- langkah membuat tulisan yang baik.   
            2.Supaya kita lebih mengetahui bagaimana proses membuat tulisan yang baik.
D. Manfaat
Penulis membuat makalah ini berharap bisa bermanfaat bagi para pembaca. Terutama dalam mata kuliah menulis bahasa “ Langkah-langkah dan proses membuat tulisan yang baik.



























BAB II
KAJIAN TEORI


A.    Langkah-Langkah Dasar dalam Menulis

       Menulis merupakan suatu proses kreatif. Sebagai suatu proses kreatif, menulis harus mengalami suatu proses yang secara sadar dilalui dan secara sadar pula dilihat hubungan satu dengan yang lain, sehingga berakhir pada suatu tujuan yang jelas. Sebagai suatu proses, menulis terdiri atas berbagai tahap sebagai berikut;

a. Tahap Prapenulisan

Tahap ini merupakan tahap perencanaan atau persiapan menulis dan mencakup
beberapa langkah kegiatan antaranya:
    
1)                  Pemilihan dan Penetapan Topik
Memilih dan menetapkan topik suatu langkah awal yang penting, sebab tidak ada tulisantanpa ada sesuatu yang hendak ditulis.Masalah pertama yang dihadapi penulis untuk merumuskan tema sebuah karangan adalah topik atau pokok pembicaraan (Keraf, 1993: 126).Dalam memilih dan menempatkan topik ini diperlukan adanyaketerampilanataupengetahuan atau kesungguhan.
Topik tulisan adalah masalah atau gagasan yang hendak disampaikan di dalam tulisan. Masalah atau gagasan itu dapat diperoleh atau digali melalui empatsumber, yaitu : (1) pengalaman, (2) pengamatan, (3) imajinasi, dan (4) pendapat dan keyakina (Semi,1990:134).
Hal-hal yang perlu dipertimbangkan dalaam memilih topik adalah: (a) topik itu ada manfaatnya dan layak dibahas, (b) topik itu cukup menarik utamanya bagi penulis, (c) topik itu dikenal baik, (d) bahan yang diperlukan dapat diperoleh dan cukup memadai, (e) topik itu tidak terlalu luas dan tidak terlalu sempit (Akhadiah, 1998:86).
Setiap penulis harus betul-betul yakin bahwa topik yang dipilihnya harus cukup sempit dan terbatas, atau sangat khusus untuk digarap. Dengan pembatasan itu, penulis akan lebih mudah memilih hal-hal yang akan dikembangkan (Keraf, 1993:129).

2) Menentukan Tujuan Penulisan dan Bentuk Karangan
Tujuan penulisan diartikan sebagai pola yang mengendalikan tulisan secara menyeluruh (Akhadiah, 1998:89). Dengan menentukan tujuan penulisan, diketahui apa yang ingin dilakukan pada tahap penulisan, bahkan apa yang diperlukan, luas lingkup bahasan, pengorganisasian, dan mungkin juga sudut pandang yang digunakan. Secara eksplisit, tujuan penulisan dapat dinyatakan cara tesis atau dengan menyatakan maksud.

3) Bahan Penulisan
Bahan penulisan ialah semua informasi atau data yang digunakan untuk mencapai tujuan penulisan.Bahan tersebut mungkin berupa rincian, sejarah kasus, contoh, penjelasan, definisi, fakta, hubungan sebab-akibat, hasil pengujian hipotesis, angka-angka, diagram, gambar, dan sebagainya (Akhadiah, 1998:90).
Bahan-bahan dapat diperoleh dari berbagai sumber, dua sumber utama ialah pengalaman dan inferensi dari pengalaman.Pengalaman ialah keseluruhan pengetahuan yang diperoleh melalui pancaindra, inferensi ialah kesimpulan atau nilai-nilai yang ditarik dari pengalaman.
Inferensi itu kemudian menjadi bagian dari pengalaman dan mungkin juga dijadikan sumber inferensi baru.Bahan yang diperoleh dari pengalaman didapatkan melalui pengalaman langsung atau melalui bacaan

4) Menyusun Kerangka Karangan
Sebuah karangan mengandung rencana kerja, memuat ketentuan pokok bagaimana suatu topik harus diperinci dan dikembangkan.Karangan menjamin suatu penyusunan yang logis dan teratur, serta memungkinkan seorang penulis membedakan gagasan utama dari gagasan tambahan.
Kerangka karangan dapat berbentuk catatan sederhana, tetapi dapat juga berbentuk mendetail dan digarap dengan sangat cermat. Secara singkat Keraf (1993:132) mendefinisikan kerangka karangan sebagai suatu rencana kerja yang memuat garis-garis besar dari suatu karangan yang akan digarap.

b. Tahap Penulisan
Pada tahap ini dibahas setiap butir yang ada di dalam karangan yang disusun.Ini berarti digunakan bahan-bahan yang sudah diklasifikasikan menurut keperluan sendiri. Kadang pada tahap ini, disadari bahwa masih diperlukan bahan lain.

1) Isi Karangan
Bagian isi karangan merupakan inti dari karangan itu sendiri. Keraf (1993:134) membagi isi karangan yakni pendahuluan, tubuh karangan, dan kesimpulan.

2) Kosakta atau Pilihan Kata
Achmadi (1990:34) mendefinisikan pilihan kata adalah seleksi kata-kata untuk mengespresikan ide atau gagasan atau perasaan.Dengan memilih kata persyaratan pokokyangharus     diperlukan yaitu ketapan dan kesesuaian.      
Persyaratan ketepatan menyangkut makna, aspek logika kata-kata; kata-kata yang dipilih harus secara tepat mengungkapkan apa yang ingin diungkapkan. Persyaratan kesesuaian menyangkut kecocokan antara kata-kata yang dipakai dengan kesempatan/situasi dan keadaan pembaca.Jadi, menyangkut aspek sosial kata-kata.

3) Kalimat Efektif
Kalimat yang mengandung gagasan haruslah yang memenuhi syarat gramatikal.Memerlukan persyaratan efektiviats artinya, kalimat itu harus memenuhi sasaran, mampu menimbulkan pengaruh, meninggalkan pesan, atau menerbitkan selera pembaca.


4) Paragraf
Akhadiah (1998:33) memberikan batasan paragraf tersusun dari beberapa buah kalimat, yang berhubungan satu dengan yang lain sehingga merupakan kesatuan utuh untuk menyampaikan suatu maksud.
Paragraf merupakan inti penuangan buah pikiran dalam sebuah karangan ke dalam paragraf tersebut, mulai dari kalimat pengenal, kalimat utama, atau kalimat topik, kalimat penjelas, sampai pada kalimat penutup.Himpunan kalimat ini saling bertalian dalam suatu rangkaian untuk membentuk sebuah karangan.
Pengembangan gagasan menjadi suatu karangan yang utuh memerlukan bahasa, dalam hal ini kita harus menguasai kata –kata yang akanmendukung gagasan kita. Inikita harus mampu memilih kata dan istilah yang tepat sehingga gagasan kita dapat di pahami pembaca dengan tepat pula ,kata –kata itu harus kita rangkai menjadi kalimat yag efektif .tetapi itu saja belm cukup  tulisan kita harus kita tulis dengan ejaan yang berlaku dan disertai dengan tanda baca yang tepat.

c. Tahap Revisi

Tahap ini merupakan tahap yang paling akhir dalam penulisan.Jika bahan seluruh tulisan sudah selesai, tulisan tersebut perlu dibaca kemabali.Hasil bacaan perlu     diperbaiki, dikurangi, atau mungkin juga diperluas.


B.Proses Menulis
The power of writing itu luar biasa.Kekuatan tulisan itu bisa lebih kuat daripada senjata.Misal ada seseorang yang membawa senjata lalu menembakkan senjata tersebut kepada seseorang dan kena kepalanya.Orang yang kena kepalanya kira kira bagaimana?Mati atau paling tidak cacat.Peluru yang ditembakkan di kepala kira-kira tertinggal dimana?Kira-kira tertinggal di kepala orang itu.Itu adalah peluru.
Tapi kalau kita menuliskan sebuah kata-kata, sebuah kalimat yang diperkuat dengan sebuah semangat untuk menuliskannya lalu ditembakkan dan membentuk sebuah buku, sebuah tulisan, sebuah karya, maka tulisan itu akan menembus bukan hanya satu kepala orang, dia akan menembus dua orang, tiga orang, ratusan, ribuan, jutaan kepala bahkan dia tidak berhenti. Di satu waktu dia akan melintasi batas waktu, melintasi batas geografis. The power of writing itu luar biasa megalahkan senjata. Saya mungkin tidak akan hidup selamanya tapi tulisan bisa membuat saya hidup lebih lama. Menulis adalah salah satu cara kita untuk berkreasi tanpa lintas batas. Seorang ustadz saya di Gontor bilang “Kalian menulislah, maka kalian akan awet muda”
“Kenapa ustadz, emang kalau menulis itu kayak minum jamu ya jadi awet muda?”
Dia bilang “Bukan begitu. Kalian menulis sesuatu dan ketika umur kita sampai, kita akan dikubur. Tulisan kita dikubur nggak? Tulisan kita akan tetap hidup selama tulisannya bagus, menginspirasi, membawa manfaat dia akan terus panjang sekali. Dan sejatinya itu adalah namanya kita awet muda karena kekuatan tulisan yang sangat panjang.”
Tulisan Bisa Bertrasformasi
Tulisan bisa bertransformasi menjadi musik, film, komik, apa saja. Bahkan tulisan bisa bertransformasi menjadi tiket pesawat. Tulisan bisa bertransformasi melebihi apa yang dibayangkan. Hanya dengan sebuah buku Negeri 5 Menara bisa bicara di Kick Andy, lalu tahu-tahu ada orang nelpon: “Boleh nggak dijadikan film?“Waktu syuting Negeri 5 Menara A. Fuadi melihat 150 orang naik turun masjid untuk syuting film, hal itu semua bermula karena sebuah tulisan.Ketemu Yovie Widianto yg mengerahkan segala macam seniman musik untuk soundtrack, semua itu awalnya karena tulisan. Tulisan bisa bertransformasi menjadi apa saja.
Description: Proses Menulis
Sumber  Posted by Heni Murhanayanti on18 December 2013
Categories:
Belajar Yuk

WHY
Menulis harus diawali dengan satu pertanyaan besar, a big question, WHY?Kelihatannya filosofis tapi ini penting sekali.Ini tentang the power of intention.Kalau bahasa Islamnya ‘Nawaitu‘. Kalau kita menulis sebaiknya kita bertanya dulu ke dalam, “kenapa kita menulis?“ nggak ada yang tahu jawabannya selain kita & yang di atas. Selain bertanya jawabannya juga harus ketemu supaya power menulisnya gede. Why besar itu adalah menjadi energi kita, menjadi pendorong. Staminanya ada disitu. Stamina menulis, WHY nya A fuadi: “Khoirunnas anfa uhum linnas“. Saya sudah bermanfaat tapi belum berbagi. Salah satu cara berbagi adalah dengan cara menulis. Modal menulis adalah: Kertas, bolpen dan HATI.
WHAT
Apa yang harus saya tulis? Tulislah apa yg paling dekat dgn hati, yg paling kita peduli, yg paling kita suka, yg paling kita care. Tujuannya biar nggak bosen. Cara tahu apa yg kita peduli: tanya ke teman “Selama ini saya suka ngobrolin tentang apa sih?“ Tuliskan itu dan kita biasanya paling enjoy banget. Ada proses penemuan diri waktu di Gontor, dituliskan dalam bentuk novel. Senang sekali, semangat dan tidak ada beban.
HOW
A fuadi tidak tahu cara menulis novel. Baca novel aja jarang.Tetapi dia menulis berita karena seorang wartawan. Karena tidak tahu caranya, maka belajar.Ada orang yg berbakat menulis novel dalam artian tidak perlu belajar.“Saya tidak berbakat menulis novel tapi saya berbakat belajar“
Istrinya membelikan buku”How to write a novel”. Yang kedua adalah RISET. Menulis novel itu risetnya luar biasa. Risetnya bisa apa saja. Salah satunya adalah: Pulang kampung ke Padang, bongkar2 lemari nyari2 tulisan yang dulu pernah ditulis (bongkar2 diary). Surat surat yg ditulis waktu di Gontor, Wawancara ke ibunya, apa yang dulu terjadi. Riset lain: Riset Visual. Mencari foto2 lama, waktu di Gontor. Waktu lihat foto langsung ingat suasana waktu di Gontor. Riset buku lama (buku tulis waktu di gontor) Membaca sebanyak mungkin buku: buku2 yg menceritakan kehidupan asrama, thesaurus, Kamus Bahasa Indonesia.
WHEN
Kapan menulisnya? Menulislah sekarang. Sehari menulis 1 halaman, 1 tahun 365 halaman.Paling tidak punya bahan untuk diedit & direvisi.Sedikit-sedikit lama2 menjadi buku.
Menulis itu adalah masalah waktu & keinginan dan bertarung dengan kemalasan.


BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Menulis merupakan suatu proses kreatif. Sebagai suatu proses kreatif, menulis harus mengalami suatu proses yang secara sadar dilalui dan secara sadar pula dilihat hubungan satu dengan yang lain, sehingga berakhir pada suatu tujuan yang jelas.

Langkah-langkah menulis yang baik :
a.       Tahap Prapenulisan
·         Pemilihan dan penetapan topik
·         Menentukan tujuan penulisan dan bentuk karangan
·         Bahan penulisan
·         Menyusun kerangka karangan
b.      Tahap Penulisan
·         Isi karangan
·         Kosakata atau pilihan kata
·         Kalimat efektif
·         Paragraf
c.       Tahap Revisi

Proses menulis yang baik :
a.       Luruskan niat
b.      Subyek familiar
c.       Referensi dan visual
d.      Konsisten



Daftar Pustaka

Akhadiah Sabarti dan Sakura (1986). Menulis. Jakarta: Kamnika

https://dunia baca.com/ Langkah- langkah menulis.html.


       Keraf (1993). Menulis .Jakarta :Kamnika
http://odazzander.blogspot.com/2012/01/langkah-langkah-menulis.html